Sangat indah kata-kata yang saya kutip dari seorang teman dengan nama depan Vita, ini. Beliau berkata bahwa: ”Terkadang kita meminta bunga yang indah atau kupu-kupu yang cantik. Allah memberi kita kaktus dan ulat. Saat itu kita sedih, kecewa dan bahkan marah. Ternyata tumbuh bunga yang sangat indah dari kaktus tersebut dan ulat bertumbuh menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Begitulah cara Allah memberi. DIA tidak memberi yang kita inginkan, tetapi memberi yang kita butuhkan”.
Tapi kan saya tidak butuh ulat apalagi kaktus yang berduri sama sekali!
Aduh, Anda benar sekali! Bagaimana mungkin saya bisa membantah pernyataan itu. Tidak ada yang butuh ulat, bentuknya yang tidak bagus dan bulu-bulu halus di badan ulat seringkali bikin gatal tubuh kita.
Kaktus? Itu lagi, kan duri kaktus bisa menembus kulit kita dan akan mengeluarkan darah. Paling tidak cukup sakit kalau tertusuk duri kaktus. Sehingga tidak ada seorangpun yang ingin mendapatkan kaktus.
Tetapi apa yang Anda dapat dari kaktus yang berbunga sangat cantik. Bukankah bahwa sesuatu itu tidak dapat dilihat dari apa yang terlihat saat ini saja. Semua harus dilihat dari apa yang akan terjadi nanti. Termasuk apakah sesuatu itu akan terjadi, karena kita mengusahakan hal itu untuk terjadi.
Nah, dalam hal kaktus. Kita kemudian dengan setengah ikhlas setengah kesal merawat dan menyirami terus kaktus tersebut. Dia terus tumbuh dan memang dia hanya butuh sangat sedikit air. Hingga satu saat kemudian tumbuhlah bunga yang sangat indah. Kitapun tidak perlu terlalu banyak memberi air. Sangat besar kemungkinan dia akan tumbuh dengan cara yang buruk dan mati bila diberi air terlalu banyak.
Sementara seekor ulat butuh daun yang banyak untuk makanan mereka agar mereka tumbuh dengan kuat dalam periode yang normal. Tidak ada percepatan untuk pertumbuhan ulat, tetapi juga bila dia mendapat makanan yang kurang, dia akan terlambat tumbuh. Ketika sang ulat tumbuh menjadi besar dia akan masuk ke dalam kepompong, dan dalam waktu yang tepat akan keluar dari kepompong menjadi ulat.
Anda perhatikan cara Tuhan bekerja? Kaktus tidak bisa diberi air terlalu banyak. Mungkin kaktus bisa bertahan hidup bila kekurangan air. Tetapi bisa mati kalau kebanyakan air. Sementara ulat bisa menunda makan hingga esok hari bila ada terlalu banyak makanan dan mati bila terlalu sedikit makanan.
Sehingga sekarang Anda menjadi lebih pintar untuk memberikan hal yang tepat kepada makhluk yang berbeda. Itu memberi Anda pengetahuan baru dalam menghadapi banyak orang dengan kepribadian yang berbeda.
Kemudian, butuh jam dari sejak sobekan pertama di kepompong hingga keluar sang kupu-kupu dengan sayap-sayapnya yang indah. Ada satu cerita lain yang saya ingat bagaimana seorang anak kecil yang membantu menyobekkan kepompong agar si kupu-kupu dapat segera terbebas dari kungkungan.
Benarkah itu kungkungan bagi si anak kecil? Ya! Dia menganggap itu adalah kungkungan. Tetapi bagi sang ulat yang akan menjadi kupu-kupu, kepompong adalah kulit yang melindungi proses transformasinya. Namun, ketika si anak membukakan kepompong yang ”mengungkung” itu, keluarlah sang kupu-kupu dengan sayap yang tidak sempurna.
Secara alami dia mencoba untuk terbang, dan dia tidak mampu terbang cukup jauh. Bahkan lebih sering dia terjatuh daripada terbang. Ternyata memang seekor kupu-kupu harus keluar dengan tenaga sendiri dari kulit pelindungnya.
Nah, sekarang kita juga sekaligus belajar tentang kesabaran. Sabar untuk menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya. Kadang-kadang kita berusaha untuk membantu, tetapi kita tidak sadar bahwa sangat mungkin bantuan tersebut bukan menolong tetapi bahkan mengganggu dan merusak.
Astaga! Begitu banyak yang kita dapat hanya dari sebuah bunga dan kupu-kupu yang kita minta. Sehingga ketika Tuhan memberi kita kaktus dan ulat, itu adalah hal yang terbaik buat kita. Tidak hanya mendapatkan bunga dan kupu-kupu, tetapi sekaligus mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dalam memperlakukan orang lain dan belajar untuk tetap sabar.
www.bukakacamatakuda.blogspot.com - Medan – Mei 2009
Mau dilanjutkan?
Senin, 25 Mei 2009
Kaktus dan Ulat
Diposkan oleh Ardian di 08:22 Link ke posting ini
Label: Out of The Box 1 komentar
Rabu, 13 Mei 2009
Define Success
Seorang teman saya bertanya kepada pasangannya, yang juga kebetulan teman saya juga. Dan mereka dengan wawasan yang sama terbatasnya dengan saya agak bingung untuk mendefinisikan sukses.
Beberapa orang yang mereka kenal, memiliki karir dan berarti finansial yang sangat baik, tetapi sangat buruk di hubungan. Lebih buruk lagi adalah hubungan yang rusak itu dalam keluarga inti mereka, istri dan anak. Padahal sebagian besar memiliki karir dan mendapatkan penghasilan dari pekerjaan mereka, demi istri dan anak mereka.
Bahkan kadang-kadang orang tersebut bekerja berjam-jam setiap hari. Setiap hari, bahkan hingga Sabtu dan Minggu dia bekerja. Sekarang pekerjaan menjadi prioritas mereka. Pekerjaan tidak lagi menjadi alat untuk tujuan mereka: membahagiakan istri dan anak. Itu membuat hidup mereka bisa terguncang-guncang dalam perjalanan mendaki karir yang lebih baik. Lalu apa gunanya mendapatkan karir tinggi kalau hidup menjadi tidak bahagia? Coba cek diskusi kita terdahulu tentang ”Hidup Substitusi”.
Ada pula yang mati-matian mempertahankan dan memelihara hubungan rumah tangga dengan istri mereka. Sangat banyak waktu yang dia berikan untuk keluarga. Kemudian sangat banyak waktu kantor yang terpotong. Bukan dengan sengaja dia meninggalkan kantor demi keluarga. Tetapi bahkan untuk 30 menit saja lebih lama dari jam kerja normal, dia tidak bersedia.
Dengan demikian maka tidak banyak kemungkinan dia memberikan performansi yang tinggi dalam pekerjaannya. Benar bila dia bekerja dengan sangat efektif maka jam kerja normal saja sudah dapat memberikan dia kesempatan untuk berkinerja tinggi. Tetapi apa mau dikata, fikirannya toh terus terfokus pada istri dan anak serta cepat pulang. Sehingga tidak dapat dipastikan dia dapat melakukan pekerjaannya dengan efektif dalam jam kerja normal.
Di sisi lain ada lingkungan sosial yang juga mengharapkan Anda untuk melibatkan diri. Bagaimana mungkin Anda bisa hidup di dalam sebuah lingkungan dengan begitu banyak tetangga tetapi tidak ada seorangpun mengenal Anda. Anda boleh saja sangat kaya tetapi tidak seorangpun mengenal Anda kecuali lingkungan usaha Anda yang sangat-sangat-sangat-sangat terbatas itu.
Anda mungkin punya banyak sekali asset tetapi tidak ada komunitas yang Anda ikuti. Tidak ada orang yang bergaul dengan Anda. Maka Anda menjadi orang yang sangat kesepian. Tidak ada teman untuk berbagi cerita sedih dan duka, bahkan untuk berbagi kisah sukses Anda saja, tidak ada orang yang Anda yakin akan mau mendengar dengan sukarela. Apakah itu hal yang menyenangkan?
Baiklah, Anda mungkin punya teman yang sangat banyak. Ikut dalam berbagai komunitas. Hubungan Anda dengan keluarga sangat baik. Dan Anda juga cukup kaya untuk membeli yang Anda mau. Tetapi karena Anda begitu sibuk bekerja di kantor di sela-sela aktivitas sosial dan hubungan di rumah, maka Anda melupakan perawatan fisik Anda sendiri.
Pernah dengar pepatah: ”banyak orang yang mengorbankan kesehatannya demi uang, akan berakhir pada saat dia harus mengorbankan uangnya demi kesehatan.” Astaga! Berarti hidup orang itu berakhir dengan sakit-sakitan dan segera setelah selesai semua penyakit, dia jatuh miskin kembali. Sungguh sengsara hidupnya. Pengorbanan tanpa henti. Mengapa bisa demikian?
Saya tidak tahu seberapa yakin Anda dengan kekuasaan Allah. Tetapi saya tidak tahu sama sekali ada pihak lain yang menciptakan alam semesta ini selain Allah. Coba campuri proses tumbuhnya sebuah makhluk.
Katakan itu sebuah tanaman. Campuri dengan unsur kimia buatan seperti pestisida untuk menghalau hama. Dalam jangka pendek memang hama akan hilang dan tumbuhan dapat tumbuh subur. Tetapi dalam jangka panjang pestisida itu akan menempel di DNA tumbuhan dan itulah yang akan Anda konsumsi.
Astaga! Benarkah Anda bersedia dengan sangat rela untuk mengkonsumsi pestisida, pembunuh hama? Saya memang bukan seorang ahli kesehatan. Tetapi informasi yang saya tahu, pestisida yang menempel di tumbuhan dan kita makan, akan memicu radikal bebas. Sepanjang pengetahuan saya yang tidak banyak ini, radikal bebas adalah unsur yang dapat memicu kanker untuk tumbuh subur di tubuh manusia.
Karena itu semua orang berusaha untuk membuat pertanian organik. Menggunakan cacing untuk menyuburkan tanah. Menggunakan burung hantu atau kucing untuk menghalau hama tikus. Dan banyak cara lagi selain itu. Menggunakan makhluk untuk mengendalikan makhluk.
Bahkan Google saja sekarang sudah menyewa kambing untuk memangkas rumput di Googleplex (komplek perkantoran Google) selama satu minggu. Ini dilakukan karena mesin pemotong rumput menimbulkan radiasi dari energi yang dilepaskannya.
Lalu pihak mana yang menciptakan makhluk-makhluk itu? Jadi tidak ada alasan untuk tidak percaya adanya Allah. Tidak pula kita punya alasan bahwa semua yang kita dapatkan adalah sesuatu yang dibiarkanNya untuk kita dapatkan. Sesuatu yang tidak kita dapatkan adalah caraNya untuk memberi kita pelajaran yang berharga.
Jadi kita benar-benar harus percaya bahwa Allah itu ada, sangat berkuasa dan menyayangi kita. Buktinya ketika Dia memberi, itu karena Anda pantas menerima. Ketika Dia tidak memberi, itu karena kita pantas untuk mendapat pelajaran yang berharga. Maka, mendapat atau tidak mendapat, sangat bermanfaat.
Bayangkan ketika Anda begitu logis dan tidak menerima konsep bahwa ada campur tangan Allah dalam setiap hasil yang Anda dapatkan. Dalam waktu tertentu itu biasa-biasa saja. Tetapi akan tiba saatnya, logika Anda sama sekali tidak menghasilkan sesuatu yang Anda perkirakan. Apakah itu bukan saatnya kita juga perlu mempedulikan unsur-unsur spiritual?
Jadi ada beberapa aspek yang dianggap penting dan dijadikan ukuran bagi kehidupan. Mari kita lihat dari 5 perspektif: sosial, spiritual, fisik, hubungan dan finansial. Ada beberapa perspektif lain dalam kaitan kesuksesan, tetapi ini termasuk hal yang utama.
Dari contoh-contoh di atas tadi, bukankah bila kita sangat hebat di satu aspek tetapi sangat buruk di beberapa aspek maka hidup kita menjadi tidak seimbang? Nah, ketika hidup seseorang tidak seimbang, maka Anda akan berkomentar ”Iya sih, dia kaya. Tapi gak punya teman”
Apakah itu yang kita sebut sukses? Jelas tidak.
Lalu, apakah sukses diukur dari 5 aspek itu? Apa boleh buat, memang demikian.
Apakah kita harus luar biasa di 5 aspek tersebut? Justru tidak! Coba sekarang Anda ukur sendiri dengan skala 1 sampai 10. Skala 1 adalah sangat buruk, 5 adalah rata-rata, dan 10 adalah sangat baik. Beri nilai 5 aspek tersebut dalam hidup Anda sendiri.
Sekarang lihat apakah sudah seimbang dan semua di atas skala 5? Bila ada yang skala 6 tetapi aspek lain dalam skala 9, maka hidup Anda belum seimbang. Tetapi bila semua aspek berada pada skala 6 atau 7 itu sudah cukup seimbang. Pada akhirnya sukses adalah bila 5 aspek tersebut berada pada skala 8 atau 9.
Jadi, apa itu sukses?
Mau dilanjutkan?
Diposkan oleh Ardian di 03:07 Link ke posting ini
Label: Out of The Box 0 komentar
Senin, 04 Mei 2009
Menjadi Tua
Ada kata-kata bagus bahwa “Menjadi Tua itu pasti, Menjadi bijaksana itu pilihan”. Waduh, itu saja sudah intimidating rasanya, ya. Berarti ada kemungkinan diri kita bisa menjadi tua tanpa menjadi bijaksana. Sulitnya lagi, ukuran bijaksana juga tidak seragam, sepertinya. Tapi nanti dulu, kita akan diskusikan juga hal ini. Kita diskusikan dulu hal lain lagi yang mungkin lebih intimidating.
Ada kata-kata bahwa ”Orang tidak tumbuh menjadi tua. Justru yang berhenti tumbuhlah yang menjadi tua dan merasa tua”. Jadi teringat diskusi kita tentang ”Menjadi Pohon” ya. Tumbuh adalah menjadi lebih bijak, lebih sabar, terus belajar, tidak takut bekerja sedikit lebih keras. Astaga!!!
Bekerja sedikit lebih keras? Saya kan sudah berumur ... Benar, Anda benar sekali!!! Sangat mungkin Anda memang lebih tua. Jadi mari kita lihat laporan dari London Marathon tahun 2002. Tanggal 14 April 2002 seorang perempuan berumur 90 tahun bernama Jenny Wood-Allen menyelesaikan lomba marathonnya. Beliau mengikuti lomba lebih dari 30 kali dan saat itu dia menyelesaikan lomba dalam 11 jam 34 menit.
Nah? Anda berlari seberapa jam untuk jarak 42 km? Atau Anda berlari sejauh apa dalam 11 jam? Saya tahu benar bahwa ini sangat mengintimidasi Anda (dan saya) yang memang tidak terlalu suka melakukan kegiatan fisik. Tetapi apa boleh buat. Itu sejarah. Itu fakta. Sehingga tidak dapat kita ubah.
Karena itu maka mau tidak mau kita memang tidak dapat menghindar sedikitpun dari kondisi-kondisi bertumbuh. Bertumbuh adalah terus melakukan yang sudah kita lakukan sejak dulu. Bahkan melakukan hal-hal yang belum kita lakukan sebelumnya.
Lho, kok jadi repot amat ya?
Karena itu tadi saya ajak Anda untuk mengikuti kembali diskusi terdahulu dengan judul Menjadi Pohon. Mari kita lihat tumbuhnya sebuah pohon. Pohon bertumbuh berarti dia terus mengambil saripati makanan dari dalam tanah, setiap hari, setiap minggu, sepanjang tahun. Tanpa henti.
Pohon menyerap terus menerus saripati makanan tersebut dengan menggunakan akarnya. Tidak pernah akar tersebut berhenti dari tugasnya menyerap saripati makanan. Maka itu yang saya maksud terus melakukan semua hal yang telah kita lakukan sejak dulu.
Lalu, mari kita ingat bagaimana pohon tumbuh. Pertama akan ada tunas. Itu artinya akar yang kecil dengan cabang yang juga kecil begitu pula dengan daun pada pohon tersebut.
Batang kecil tersebut berubah menjadi lebih besar, begitu pula dengan cabang tadi. Dari cabang yang membesar itu sekarang muncul pula yang namanya ranting. Tadinya batang pohon hanya memberi makanan kepada cabang yang kemudian diteruskan sebagian kepada daun. Sekarang terjadi kegiatan baru. Dari batang ke cabang, kemudian ke ranting baru berakhir di daun.
Perubahan terus terjadi. Sekarang pohon mulai menumbuhkan buah. Itu berarti arus transportasi makanan berubah. Sehingga pohon melakukan transportasi makanan yang baru, yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Kini transportasi dari ranting yang hanya ke daun, menjadi dua arah termasuk ke buah.
Nah, sekarang karena Anda sudah mulai belajar dari pohon, maka lakukanlah semua yang pernah Anda lakukan. Dulu ketika Anda belum bisa membaca, begitu bersemangat bila melihat sesuatu yang sepertinya seperti huruf. Semua dilihat, semua ingin dibaca. Sangat bersemangat.
Begitu pula saat Anda sudah mampu membaca. Mulai muncul pengetahuan baru yang menurut Anda hal yang menarik. Matematika, Sains, Sejarah, Ekonomi dan banyak hal lain. Anda jadi semakin bersemangat untuk terus menerus membaca. Tidak henti-henti Anda penuhi rasa haus akan hal-hal baru tersebut.
Sekarang Anda sudah berusia lebih dari 18 tahun. Anda sudah belajar semua hal sejak SD, SMP hingga SMA. Tetapi benarkah Anda sudah tahu semua hal? Benarkah Anda sudah tidak perlu lagi membaca apapun?
Anda dulu belajar bersikap dari orangtua Anda. Kemudian sikap-sikap yang baik Anda pelajari juga dari guru-guru di sekolah Anda. Sikap yang terhormat juga Anda pelajari dari guru-guru keagamaan. Tetapi apakah itu berarti Anda akan berhenti untuk belajar memperbaiki sikap Anda ketika semua itu sudah didapatkan?
Ingatkah Anda bahwa untuk mengemudikan sebuah pesawat jet, setiap pilot harus memiliki jam terbang. Kemudian jam terbang itu menjadi dasar bagi sang pilot untuk dapat belajar mengemudikan pesawat yang lebih handal. Secara bertingkat, setiap pilot akan terus dituntut jam terbang lagi untuk dapat belajar mengemudikan pesawat yang lebih baik dengan teknis pengemudian yang lebih rumit lagi.
Maka, seorang pilot, bahwa untuk punya kesempatan belajar saja, harus berlatih lebih banyak dan lebih banyak lagi. Setelah belajar mengemudikan pesawat dengan tingkat kerumitan tertentu, mereka juga harus menambah pembiasaan mengemudi. Kemudian akan ada pesawat baru dengan teknis mengemudi yang lebih rumit lagi.
Jadi setiap orang perlu terus bertumbuh. Perlu terus belajar. Terus melakukan semua yang telah dilakukan. Masih ditambah lagi, terus melakukan semua hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Tetapi mengapa itu yang menandakan bahwa kita masih hidup? Mari kita kembali ke pohon. Apa yang menandakan sebuah pohon sudah menjadi tua? Tidak ada lagi daun yang baru, sementara yang lama berguguran. Itu berarti tanda dia menjadi tua.
Tidak ada lagi buah yang tumbuh, sedangkan yang lama jatuh karena busuk itu tanda pohon menjadi tua. Ranting-ranting pun mulai berceceran di sekitar batang pohon, dan tidak ada ranting baru yang tumbuh. Kemudian bahkan benalu atau rumput yang ada di sekitar pohon sudah tidak lagi ada di sana.
Lalu perlahan-lahan pohon tidak lagi menjulurkan akarnya semakin panjang untuk mencari dan mendapatkan sumber makanan. Dia diam tidak lagi melakukan apapun yang selama ini dilakukan, apalagi melakukan hal baru yang belum pernah dilakukan.
Pohon kemudian menjadi tua dan mati!!!
Itulah yang terjadi pada pohon, dan pada semua makhluk ciptaan Tuhan. Ketika menjadi tua dan akan mati, maka dia tidak lagi melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan. Tentu dia tidak lagi melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk mengisi kehidupannya. Menjadi tua dan mati.
Itu pula yang dihindari oleh Jenny Wood-Allen. Bahkan ketika beliau sudah berusia 90 tahun, tidak bersedia beliau kehilangan semua aktivitas fisik yang selama lebih dari 50 tahun sudah dia lakukan. Dia terus melakukan walaupun cahaya matahari sudah mulai menghilang saat dia hampir menyelesaikan lomba marathonnya.
Orang boleh mencapai finish duluan. Tetapi itu lomba mereka. Mereka butuh tiba duluan untuk membuktikan bahwa mereka adalah yang tercepat di antara semua peserta lomba marathon. Maka mereka berlari dengan kecepatan dan kekuatan muda mereka agar finish paling depan.
Jenny memiliki lomba marathonnya sendiri. Dia ingin membuktikan pada dirinya, pada teman-temannya, pada keluarganya dan mungkin pada Anda dan saya. Bahwa setiap kali sesuatu sudah dimulai, selesaikanlah! Berhenti di tengah jalan adalah kebiasaan para pecundang. Anda perlu menjadi yang paling dulu tiba di garis finish, bila kecepatan adalah sesuatu yang ingin Anda buktikan. Tetapi Anda harus tiba di garis finish agar tidak menjadi pecundang!
Pernah baca buku-bukunya Kiyosaki, kan? Bukankah beliau menyarankan untuk mulai belajar olahraga seperti golf. Atau paling tidak jalan sehat, ini modifikasi saya. Karena olahraga yang perlu Anda lakukan adalah olahraga yang bisa terus Anda lakukan ketika usia sudah menjadi batasan untuk berolahraga. Anda mungkin bisa bermain bola basket hingga usia 60 tahun. Tetapi otot-otot Anda, persendian Anda sudah mulai kaku ketika Anda berusia 70 tahun.
Jadi kita perlu terus melakukan semua yang kita kerjakan, hingga selesai? Tepat! Kita juga perlu terus melakukannya hingga kita tidak bisa melakukan? Itu juga, tepat! Selain itu kita juga harus terus belajar untuk terus meningkatkan kemampuan kita dalam mengerjakannya? Sangat tepat!
Waduh, kalau semua sepintar Anda, tidak akan ada yang pernah menjadi tua, ya...
Medan – Mei 2009
Mau dilanjutkan?
Diposkan oleh Ardian di 20:18 Link ke posting ini
Label: Out of The Box 0 komentar
